Kebiasaan Sarapan Sehat untuk Masa Depan Cemerlang

 

Kebiasaan sarapan dapat menjadi faktor penentu kualitas hidup seseorang. Kok bisa?

 

Tubuh memerlukan gizi untuk bertahan hidup dan sebagai bahan bakar untuk bertumbuh dan berkembang. Terutama untuk anak usia 7-12 tahun, kebutuhan akan gizi sangat tinggi karena tubuhnya sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat. Termasuk pembentukan sel otak, sehingga kualitas gizi yang masuk dalam tubuh anak akan mempengaruhi kecerdasan mereka.

 

Namun penelitian oleh Telisa & Eliza (2020) menunjukkan bahwa 40% remaja mengidap anemia karena kurang asupan protein dan asupan zat besi. Selain itu, masalah yang sering ditemukan pada anak sekolah adalah kondisi tubuh kurus, pendek, kegemukan, dan anemia. Bahkan angka stunting di Indonesia jauh di atas rata-rata kawasan Asia Tenggara yaitu sebesar 37,2 % (UNICEF/WHO/WB, 2018). 

 

Salah satu faktor penyebab hal ini adalah karena anak-anak tidak sarapan pagi, padahal sarapan sangatlah penting untuk memulai hari. Sarapan pagi akan menyumbangkan gizi sekitar 25 % untuk kebutuhan gizi dan kalori harian. Dengan gizi yang cukup dari sarapan dapat membekali tubuh untuk berpikir, beraktivitas fisik secara optimal setelah bangun pagi. Selain itu, sarapan terbukti dapat meningkatkan kemampuan belajar dan stamina anak. 

 

Selain kondisi tubuh kurang gizi, ternyata berlebihan juga salah. Kondisi tubuh kegemukan berpotensi meningkatkan resiko penyakit diabetes dan obesitas. Kurangnya pengetahuan tentang sarapan yang sehat juga dapat memicu terjadinya gizi tidak seimbang pada anak. Rasa suka berlebihan terhadap suatu makanan tertentu dapat memicu adanya unsur tertentu yang berlebih dan menyebabkan kondisi kegemukan pada anak.  

 

Tubuh yang sehat bukan berarti asupan gizinya harus berlebih, namun secukupnya saja. Kita bisa mencapai kondisi gizi seimbang dengan menerapkan sarapan sesuai panduan slogan “Isi Piringku” oleh Kementerian Kesehatan. Pedoman isi piringku terdiri dari 50%  sumber energi yaitu 2/3 dari ½ piring dan lauk pauk 1/3 dari ½ piring. Sedangkan 50% sisanya berupa makanan pengatur yang berupa sayur 2/3 dari ½ piring dan  buah 1/3 dari ½ piring. Selain itu kebiasaan ini dilengkapi dengan minum air putih 8 gelas sehari, aktivitas fisik, dan cuci tangan pakai sabun. 

 

Setelah para siswa diajarkan pengetahuan mengenai gizi, mereka tidak serta merta langsung terbebas dari resiko gizi buruk. Pengetahuan ini harus diterapkan dan dijadikan kebiasaan. Penelitian pada mahasiswa tahun 2021 menunjukkan bahwa 97,8% mahasiswa memiliki pengetahuan tentang gizi yang baik tetapi hanya 26,3% yang menerapkan pola konsumsi yang baik sehingga hanya 67,4% dari mereka yang memiliki status gizi normal. 

 

Kebiasaan sarapan dan pola makan yang sehat harus diterapkan kepada anak sejak usia dini. Sehingga ketika mereka mengalami transisi dari masa remaja ke kehidupan dewasa, mereka memiliki kebiasaan hidup yang sehat dan membuat pilihan yang tepat ketika mereka sudah mandiri. Dengan dasar ini, maka peluang anak memiliki masa depan yang cemerlang dan kualitas hidup yang baik akan semakin terjamin.

 

Referensi:

Anjar, M. Sada, dan M. A. Matto. (2022). Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Peran Gizi Seimbang Dengan Komposisi Isi Piringku Pada Masa Pandemi Covid-19. J. Panrita Abdi (6) 2:420-427. 

Hadisuyitno J., C. Cerdasari, B., dan D. Riyadi. (2021). Hubungan Pengetahuan Gizi Seimbang dan Pola Konsumsi Makan Mahasiswa. Jurnal Gizi KH, 1(1):28-32. 

Mardiana, H.  Yuniarti, dan E. Susanto. (2021). Improvement of Balanced Nutritional Knowledge and Skills Through  the Demonstration of Isi Piringku in Basic School Children. Journal of Character Education Society 4 (2): 495-503. 

Sugiyanto, Sumarlan, dan A. J. Hadi. (2020). Analysis of Balanced Nutrition Program Implementation Against Stunting in Toddlers. Unnes Journal of Public Health 9 (2): 148-159.

Telisa, I., & Eliza. (2020). Asupan Zat Gizi Makro , Asupan Zat Besi , Kadar Haemoglobin (Intake Of Macro Nutrition , Iron Intake , Haemoglobin Levels And Chronic Energy Deficiency Risk In Female Adolescents). Aceh Nutrition Journal, (5): 80–86.